Guiding Interpreter: Menjadi Pemandu Ekowisata yang Bertanggungjawab



oleh: Budi Santoso

Salah satu cara mengurangi laju kerusakan terumbu karang adalah dengan pendidikan dan penyadaran yang dilakukan pada saat berwisata. Jika Anda seorang pemandu hanya berkata, “Lindungi dan selamatkan terumbu karang”, kepada pengunjung atau wisatawan, mereka tidak akan merasakan apa-apa. Tetapi, dengan sebuah pemanduan yang baik serta dibarengi pesan yang tak terlupakan dan tertanam dalam benak-pikiran, maka pengunjung atau wisatawan akan memahami betapa pentingnya terumbu karang.

Wisata alam akan lebih menarik jika pemandu wisata mampu melakukan interpretasi terhadap fenomena alam. Pemandu seharusnya memiliki keahlian khusus, yang bertugas sebagai pendamping untuk memberikan petunjuk dan arahan pada waktu melaksanakan kegiatan. Sedangkan interpretasi adalah suatu kegiatan yang mengandung pendidikan, bertujuan untuk mengungkap makna dan hubungan keterkaitan dengan memanfaatkan objek asli, melalui pengalaman langsung serta menggunakan media ilustratif, dan tidak hanya sekedar menyampaikan informasi faktual.

Dengan interpretasi yang baik oleh seorang pemandu, misalnya mengenai peran terumbu karang, manfaat serta ancaman terhadap terumbu karang, pengunjung atau wisatawan akan memahami mengapa terumbu karang harus dilestarikan dan  lebih peduli. Kepedulian itu dimulai dari cara berpikir, bersikap dan berperilaku yang bijaksana serta ramah lingkungan.

Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan pemandu dalam melakukan interpretasi
  • Pemilikan informasi faktual yang memadai, hasil penelitian ataupun dari sumber tertulis, maupun dari sumber yang tidak dibukukan, seperti kepercayaan yang tumbuh dalam masyarakat, persepsi masyarakat tentang sesuatu, serta informasi teknis tentang objek.
  • Kemampuan untuk mengungkap kebenaran melalui informasi yang dimiliki.
  • Pemanfaatan informasi untuk menunjukkan keterkaitan antara objek yang sedang diinterpretasi dengan para pengunjung. Keterkaitan ini berbeda untuk kelompok pengunjung yang berbeda, misalnya antara anak-anak dengan manusia dewasa, atau antara wisatawan Jepang dengan wisatawan Eropa atau domestik. Mengkaitkan sesuatu yang ditafsirkan dengan keseharian kelompok pengunjungnya.
  • Kemampuan untuk membujuk agar pengunjung menjadi tertarik, melalui keterampilan dan media komunikasi untuk menarik perhatian. Pemandu harus memiliki pemahaman tentang ketertarikan (interest) pengunjung.
  • Menyampaikan penafsiran secara utuh, tidak memberikan kesan bahwa kita hanya sekedar tahu tetapi paham betul tentang apa yang sedang ditafsirkan.

Beberapa pedoman bagi pemandu
  • Ikutilah perkembangan berita terkini baik berita lokal maupun global, termasuk berita-berita isu lingkungan.
  • Bawalah selalu peralatan pemanduan seperti buku catatan lapangan, buku referensi, P3K dan lain-lain.
  • Berilah motivasi pada pengunjung tentang pentingnya isu-isu lingkungan, baik secara lokal maupun global, dengan demikian kunjungan ke tempat wisata alam (eco-site) menjadi batu loncatan terhadap upaya konservasi dan berpikir rasional dalam memanfaatkan sumber daya alam, baik di dalam maupun di luar.
  • Membantu memantau dampak-dampak terhadap lingkungan, termasuk kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan wisata.
  • Tingkatkan teknik pemanduan dan pengetahuan umum anda. Sebagai contoh, setiap bulan memberikan laporan resmi pada organisasinya masing-masing berkaitan dengan perkembangan subyek di lapangan.
  • Jangan ragu-ragu untuk menengahi atau memberi tahu dengan sopan dan baik apabila terlihat pengunjung melakukan interaksi dengan alam/objek yang bersifat merusak/mengganggu untuk mencegah dampak yang lebih besar.
  • Belajarlah untuk berkata “saya tidak tahu” . Hal yang lebih penting adalah bukan hanya seberapa banyak Anda tahu, tetapi seberapa baiknya anda menyampaikan informasi pada pengunjung.
  • Jangan terlalu muluk berjanji pada pengunjung. Sebagai contoh, hari ini kita bisa melihat lumba-lumba, atau kita akan melihat penyu, atau satwa lain di habitatnya jika beruntung.
  • Pakailah perasaan dan berbuatlah jujur.
  • Pemandu adalah pemimpin dan model panutan. Sebagai contoh, jika anda tidak membuang sampah sembarangan, mungkin pengunjung pun akan menirunya dan mencoba menghargai alam.
  • Berilah pujian atau penghargaan dengan tulus daripada hanya berkata basa-basi.

Hal-hal yang dapat diinterpretasikan oleh pemandu
  • Suasana lokasi yang akan dijadikan objek wisata
  • Biota laut yang ada pada ekosistem terumbu karang (fungsi, peran, ancaman terhadap habitat dan populasinya)
  • Menumbuhkan empati (misalnya jika manusia berada dalam kondisi atau situasi ancaman dan kehancuran seperti pada kondisi terumbu karang yang sedang dikunjungi)
  • Pertanyaan yang bersifat memancing pengunjung, contohnya, “Bagaimana sikap kita dalam melestarikan terumbu karang”.

Tingkatan penyampaian pesan kepada pengunjung atau wisatawan meliputi:
  • Tingkat pendekatan, lakukan aktivitas untuk menarik perhatian pengunjung, salah satunya adalah dengan perkenalan, diskusi, atau permainan.
  • Tingkat pengalaman, ajaklah pengunjung untuk merasakan ke lima indera perasa. Contohnya adalah mempersilahkan pengunjung untuk mengamati dan menikmati keindahan berbagai biota laut.
  • Tingkat menemukan dan tertarik, pengujung sadar akan sesuatu. Salah satu caranya adalah bertanya pada mereka. “Berapa macam jumlah biota yang hidup di terumbu karang dan bagaimana biota itu berinteraksi”.
  • Tingkat Interpretasi, seorang pemandu harus menjawab pertanyaan dengan ilmu pengetahuan dan informasi yang ada. Pemandu memberikan pengalaman yang berkesan kepada pengunjung, sehingga pengalaman itu tertanam dalam pikiran pengunjung
  • Tingkat Pengembangan, bila setelah program pengunjung merubah pola hidupnya, maka itu berarti anda telah melakukan interpretasi dengan hebat. “Mereka memahami bahwa terumbu karang harus dilindungi dan dilestarikan, mengingat besar fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan’’.

Dengan menggunakan teknik interpretasi pada kegiatan ekowisata bahari khususnya wisata pengamatan terumbu karang, pemandu dapat lebih berperan dan bertanggungjawab dalam pelestarian ekosistem terumbu karang.